Laporan Khusus: Buang Duit Gaya Dinasti Cendana

Laporan Khusus
Buang Duit Gaya Dinasti Cendana

Trah Soeharto adalah kisah tentang rumah berjuta poundsterling di
Inggris, reli mobil di Australia, perburuan di Selandia Baru,
perjudian di Christmas Island, dan segunung tas belanja yang tak
sempat dibuka.

BEL itu berdentang nyaring. Sekian menit ditunggu, tak ada yang
membukakan pintu rumah mewah di Winnington Road No. 8, Hampstead,
London, itu. Baca lebih lanjut

Mafia “Geng Sembilan” di Indonesia

Sekilas:

Mafia “Geng Sembilan” di Indonesia DI dunia remang-remang, nama “Gang of Nine” menjadi legenda. Dibekingi Keluarga Cendana dan petinggi militer, segala sepak terjangnya hampir tak tersentuh. Taipan Tommy Winata-bersama Sugianto Kusuma alias Aguan-disebut-sebut sebagai godfather-nya. Bisnis mereka terentang dari properti hingga judi, dari obat terlarang hingga otomotif.
Baca lebih lanjut

Penjajahan Timor-Timur! Perbudakan oleh “bangsa” sendiri

Arsip tentang bagaimana indonesia berperilaku biadab kepada saudaranya (dulu) Timor Timur, menjajah dan romusha dihidupkan disana tanpa sepengetahuan rakyat diluar pulau terkutuk itu.

Disini pula anda akan melihat betapa kotornya tangan-tangan keluarga ©endana, benny moerdani, pengusaha probosutedjo & pengusaha lainnya, jendral prabowo. Dimana mereka menikmati harta rampasan&kekayaan hasil alam rakyat tim-tim dengan jalan yang sangat menjijikan!!

Baca lebih lanjut

Bisnis Kotor Singapura (©li©k! me to enter)

 ALERT!

Kenapa?apa indosat lagi?apakah sebenarnya yang terjadi? ©u©i uang gaya baru / korupsi berjamaah ala singapur-pemerintah?
———————–

Pemerintah Singapura (Temasek) berhasil menguasai Indosat setelah penandatanganan kontrak jual beli, sales purchase agreemant (SPA) antara Meneg BUMN Laksamana Sukardi dan Indonesian Communications Limited (ICL) pada 15 Desember 2002. Kementerian BUMN secara resmi menyatakan bahwa pembeli 41,94 persen saham Indosat adalah Singapore Technologies Telemedia (STT), tanpa nama menyebut-nyebut ICL. Padahal dalam SPA nama perusahaan ‘siluman’ ICL jelas tercantum, yang merupakan perusahaan berbadan hukum asing dan berkedudukan di Mauritius. ICL muncul secara tiba-tiba saat SPA akan ditandatangani.

Baca lebih lanjut

[Pengusaha WARNET bersatu!!] Ancam Gugat Polisi Yang Main Sita (©li©k! me to enter)

Pengusaha Komputer Ancam Gugat Polisi Yang Main Sita

Kediri – Rencana Business Software Alliance (BSA) dan Polda Jatim yang akan melakukan razia software bajakan mendapat penolakan keras dari Asosiasi Pengusaha Komputer (Apkom) Kediri.

Mereka mengancam akan mengajukan gugatan hukum karena terbukti melakukan razia di luar batas.

Baca lebih lanjut

Konspirasi tariff selular indonesia! (©li©k! me to enter)

Biaya produksi hanya Rp74 per pesan!!
Tarif SMS dituding kartel

JAKARTA: Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI) dinilai menerapkan praktik kartel dalam menentukan tarif layanan pesan singkat SMS (short message service) sebesar Rp250-Rp300, sehingga merugikan masyarakat.

Anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi menilai praktik kartel itu menyebabkan tarif SMS di Indonesia tidak kunjung turun. Padahal, biaya produksinya hanya Rp74 per SMS.

“Bila operator menerapkan Rp300 per SMS, terjadi peningkatan hingga 400% dari biaya produksi,” ujarnya kemarin.
>

>>

Selama ini, ATSI diduga menerapkan tarif SMS yang cukup tinggi kepada semua operator seluler, sehingga memicu praktik kartel. Saat ini, ada operator seluler yang mematok tarif SMS Rp100 per pengiriman. “Namun, dengan tarif sebesar itu pun operator sebenarnya masih bisa menangguk keuntungan.”

BRTI berencana menyelidiki hal itu, karena terdapat kejanggalan dalam penerapan tarif SMS kepada pelanggan masing-masing. Tarif SMS yang dimaksud regulator tidak termasuk tarif promosi, tetapi yang telah menjadi tarif tetap.

Indonesia Telecommunication User Group (Idtug) mendukung rencana BRTI untuk menyelidiki lebih dalam mengenai adanya kartel tarif di segmen layanan SMS. Sekjen Idtug Muhammad Jumadi menjelaskan tarif SMS yang diberlakukan para operator sudah tidak wajar lagi. Hal ini mengingat dalam penggunaan layanan tersebut tidak diperlukan komponen tarif lainnya seperti interkoneksi.

Baca lebih lanjut