Moerdhani: Lahir, Karir dan Matinya.

SUARA PEMBARUAN DAILY
TNI Kibarkan Bendera Setengah Tiang 7 Hari untuk LB Moerdani

Pembaruan/Alex Suban
PEMAKAMAN LB MOERDANI - Anggota Korps Pasukan Khusus TNI AD
mengusung jenazah mantan Menhankam/Panglima ABRI, Jend (Purn) LB Moerdani
saat pemakama di TMP Kalibata, Jakarta, Minggu (29/8).
Moerdani wafat dalam usia 74 tahun setelah menderita sakit. (Inset) Jend
(Purn) LB Moerdani. Baca lebih lanjut 

Mafia Bisnis: Pengusaha Militer Indonesia

Mafia Bisnis: Militer Indonesia

Keterlibatan perwira angkatan darat dalam [bisnis] pada dasarnya akan memicu perselisihan, penyalahgunaan kekuasaan, kriminalitas, dan pelanggaran hak asasi manusia.
—Seorang aktivis hak asasi manusia Indonesia, lewat surat elektronik kepada Human Rights Watch, 26 September 2005

Sampai saat ini, keuntungan dari bisnis militer hanya dinikmati oleh perwira-perwira tinggi militer.
—Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono, dikutip di Tempo Interaktif, 23 Februari 2005

Bisnis adalah suatu otonomi … Itu tidak baik untuk hierarki tugas [militer].
—Letjen. Sjafrie Sjamsoeddin, Sekretaris Jendral Departemen Pertahanan dan mantan juru bicara militer Indonesia, dalam sebuah wawancara dengan Human Rights Watch, 12 April 2006.

Pemerintah sipil tidak akan dapat mengatur pihak militer jika mereka tidak dapat mengatur keuangan pihak militer. Inilah inti masalahnya.
—Seorang ahli reformasi militer dari negara asing, berbicara kepada Human Rights Watch, 7 September 2004
Baca lebih lanjut

Mahalnya Kursi Senayan!

Mahalnya Kursi Senayan

Perjalanan memperebutkan kursi di Senayan untuk menjadi anggota DPR RI tidaklah mudah. Penuh liku dan pengorbanan. Tidak hanya waktu dan tenaga, tetapi juga uang, terutama bagi mereka yang mewakili partai besar yang kemungkinan jadinya juga besar.

Pada pemilu-pemilu sebelumnya, orang yang dekat dengan elite partai bisa dengan mudah duduk di Senayan, tak peduli berduit atau tidak, dipilih rakyat atau tidak. Namun pada Pemilu 2004 ini, orang yang mau menjadi mencicipi empuknya kursi di Senayan harus berjuang mengerahkan segala sumber dayanya karena sistem pemilu memungkinkan seorang calon legislatif (caleg) dipilih langsung (baca: Memperebutkan Caleg, hal. 8).

Semua caleg yang mau bertarung pada Pemilu 2004 harus mengeluarkan dana dari koceknya. Pengalaman setiap caleg memang tidak seragam. Ada yang mengaku sudah menghabiskan ratusan juta, namun ada juga yang hanya menghabiskan ratusan ribu. Dana itu digunakan untuk macam-macam kepentingan berkaitan dengan pencalonan.

Trimedya Panjaitan, caleg PDI-P dari Sumatera Utara II, misalnya, mengaku hingga kini sudah mengeluarkan Rp 200-300 juta. Baca lebih lanjut