Indonesia, Revolusi yang Belum Usai (©li©k! me to enter)

Indonesia, Revolusi yang Belum Usai

Pembebasan nasional rakyat Amerika Latin, yang terinspirasi perjuangan rakyat Venezuela dipimpin Hugo Chavez, selayaknya dapat mengilhami pula metode dan ideologi perjuangan nasional Indonesia.

Jutaan rakyat Amerika Latin terinspirasi proses di Venezuela ketika rakyat di sana berhasil merebut kembali kekayaan dan kebudayaan mereka dari cengkeraman AS. “Saya membayangkan perjuangan semacam itu bisa jadi tulang punggung kebudayaan politik di Indonesia, dengan dilandasi ideologi kerakyatan,” ungkap Max Lane, penulis Australia dalam acara peluncuran bukunya “Bangsa yang Belum Selesai: Indonesia, Sebelum dan Sesudah Soeharto” yang diterbitkan Reform Institute, sekaligus peluncuran jurnal Reform Review, Selasa (22/5).

>>

Max sangat yakin, dengan memegang dua senjata, yakni metode perjuangan aksi serta ideologi perjuangan revolusi nasional, perjuangan pembebasan rakyat Indonesia akan menemukan-jawaban selanjutnya.

“Kalau hal itu terjadi, Indonesia akan menjadi Venezuelanya wilayah Asia, dan akan memberikan inspirasi bagi masyarakat Asia,” ungkap Max dalam diskusi yang juga menghadirkan pembicara Benyamin F.Intan (Direktur Eksekutif Reformed Center for Religion and Society), Yudi Latief (Direktur Eksekutif Reform Institute), serta Daniel Dhakidae.

Max berpendapat, hampir semua bangsa lahir dari hasil revolusi yang melibatkan rakyat. Ini terlihat dari pengalaman Inggris, Prancis dan AS.

Jika dicermati, lahirnya sebuah bangsa sebagai hasil revolusi juga terjadi di Indonesia. Kartini yang tampil dengan revolusi pemikiran modernnya, Tirto Adi Soerjo (TAS), hingga Soekarno, adalah figur-figur yang terlibat dalam revolusi di Indonesia.

Tetapi, Max mencermati, revolusi nasional sebagai proses yang membentuk Indonesia sebagai sebuah bangsa ternyata belum selesai. “Prosesnya membeku,” Max menandaskan.

>>

Barulah sejak Kasus Kedung Ombo di Jawa mencuat tahun 1989, perjuangan yang dilakukan mahasiswa, petani, dan rakyat miskin kota, dimulai lagi. “Kasus Kedung Ombo menjadi sepenggal proses utama yang berjalan hingga kejatuhan Soeharto dan rezim Orde Barunya,” kata Max.

Hasil dari proses tersebut adalah direbut kembalinya senjata yang dipakai untuk kemerdekaan, yaitu metode perjuangan aksi massa. “Dengan merebut kembali aksi massa, rakyat Indonesia menjadi tangguh dan bersedia dengan sukarela turun ke jalan untuk menuntut hak dan kepentingannya. Itu salah satu kekayaan revolusi nasional yang perlu direbut kembali,” tegasnya.

Masih banyak kekayaan revolusi yang perlu digali kembali termasuk ideologi kerakyatan yang terkandung dalam tulisan-tulisan karya Kartini, TAS, Soekarno, dan lain-lain dalam bidang politik maupun sastra.

Sayangnya, karya-karya besar seperti tulisan Soekarno “Nasionalisme, Islam dan Marxisme,” atau karya Sutan Sjahrir, Muhammad Natsir, HOS Cokroaminoto, tidak pernah dibaca anak-anak sekolah Indonesia. “Bagaimana Indonesia bisa menghadapi ancaman Barat itu jika hasil kekayaan revolusi nasionalnya sendiri tidak diketahui oleh bangsanya?” ia mempertanyakan.

>>

Daniel Dhakidae menambahkan, di Indonesia, kata revolusi dan nasionalisme, sudah sayup-sayup. Ingatan kolektif yang pendek membuat kita cepat melupakan segala peristiwa. Reformasi 1998 cepat terlupakan, sepertinya peristiwa itu berlangsung berabad-abad lalu. Kekerasan yang berlangsung pada bulan Mei berlalu begitu saja tanpa ada penyelesaian, padahal reformasi baru terjadi sembilan tahun lalu.

>>

Begitu pula dalam menyikapi globalisasi, kita melupakan aspek nasionalisme. Ia mencontohkan, sebuah sekolah di Jakarta yang mengharuskan komunikasi dalam bahasa Inggris, tidak memperkenankan murid-muridnya berbahasa Indonesia. “Kita mengabaikan bahwa globalisasi harus diiringi dengan harkat atau martabat bangsa yang lahir lewat bahasanya,” ujarnya.

Indonesia rakyatnya banyak lupa akan akar budaya dan sejarah sebenarnya dari bangsa Indonesia sendiri. Terlena di arus globalisasi dari dunia luar baik imperialisme dari barat dan manipulasi timur, termakan janji2 surga dalam segala bentuk. Perlu direnungkan menjelang HUT Kemerdekaan RI ke 62 …..

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s