SUARA PEMBARUAN DAILY TNI Kibarkan Bendera Setengah Tiang 7 Hari untuk LB Moerdani Pembaruan/Alex Suban PEMAKAMAN LB MOERDANI - Anggota Korps Pasukan Khusus TNI AD mengusung jenazah mantan Menhankam/Panglima ABRI, Jend (Purn) LB Moerdani saat pemakama di TMP Kalibata, Jakarta, Minggu (29/8). Moerdani wafat dalam usia 74 tahun setelah menderita sakit. (Inset) Jend (Purn) LB Moerdani. JAKARTA - Markas Besar (Mabes) TNI mengeluarkan perintah kepada seluruh markas di jajaran TNI untuk mengibarkan bendera Merah Putih setengah tiang selama tujuh hari, sebagai belasungkawa atas tutup usianya mantan Menhankam/Pangab Jenderal (Purn) Leonardus Benyamin (LB) Moerdani. Pengibaran bendera setengah tiang tujuh hari ini sekaligus menunjukkan duka yang mendalam atas meninggalnya tokoh militer sekaligus tokoh intelijen Indonesia itu akibat penyakit yang dideritanya selama ini. LB Moerdani dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan, Minggu (29/8) pukul 13.50 WIB dalam upacara militer yang dipimpin langsung oleh Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto. Mantan Pangkopkamtib itu meninggal pada Minggu dini hari pukul 01.30 WIB di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta. Sebelumnya, Moerdani yang dirawat sejak 7 Juli 2004 karena stroke dan infeksi paru-paru sempat dibesuk sejumlah tokoh penting, antara lain mantan pejabat tinggi negara dan militer termasuk mantan Presiden Soeharto, Jumat (27/8). Ketika itu Benny Moerdani masih dalam kondisi sadar. Hal menarik, menurut beberapa sumber, saat mantan orang nomor satu di republik ini bertemu di sisi ranjang, Benny sempat memegangi tangan Soeharto. Keduanya sempat hanyut dalam keharuan bersama, dan saling menitikkan air mata. Penghormatan tembakan salvo oleh 10 personel TNI menandai diturunkannya peti jenazah LB Moerdani ke makamnya di Blok W bagian selatan Kompleks TMP Kalibata. Sebelumnya, Panglima TNI membacakan riwayat hidup LB Moerdani yang pernah memimpin Operasi Naga pasukan elite RPKAD pada 4 Juni 1962 untuk merebut Irian Barat dari Belanda. (Ant/Y-3) ------------------------------------- http://www.suarapembaruan.com/News/2004/08/30/index.html SUARA PEMBARUAN DAILY Last modified: 30/8/04 In Memoriam: Leornadus Benyamin Moerdani (1932-2004) Atmadji Sumarkidjo ENDERAL TNI Purnawirawan Leonardus Benyamin ("Benny") Moerdani (LBM) hari Minggu (29/8) dini hari meninggal dunia setelah menderita sakit selama beberapa minggu. Perwira yang berasal dari Korps Baret Merah itu wafat dalam usia 72 tahun. Dalam sejarah politik-militer TNI, perannya cukup penting setelah tahun 1970-an, yaitu setelah ia dipanggil mendadak dari Korea Selatan untuk membenahi organisasi intelijen Indonesia oleh Presiden Soeharto. Puncak kariernya dan juga puncak perannya terjadi tahun 1983 setelah LBM diangkat menjadi Panglima ABRI menggantikan Jenderal TNI M Jusuf yang waktu itu sangat popular. Berbeda dengan riwayat hidup sejumlah jenderal lain yang pernah punya saham penting dan kehidupan politik-militer di Indonesia, sejarah agaknya telah menentukan kapan Benny Moerdani bisa dicatat perannya dalam sejarah Republik. Dan kalau ukuran-ukuran umum dipakai, LBM bisa dikategorikan "terlambat" berperan. Seandainya saja ia tidak berbeda pendapat dengan Komandan RPKAD Kolonel Sarwo Edhie Wibowo dan tidak berdebat sehingga dipindahkan oleh Men/Pangad Letjen Achmad Yani dari Korps Baret Merah ke Kostrad; mungkin ia akan menata karier yang wajar di Cijantung. Dan mungkin juga ia akan pensiun secara normal di RPKAD. Tetapi ia dipindahkan dari pasukan yang ia cintai lebih dari segala-galanya dengan rasa getir. Sebagai ungkapan khas Jawa, rasa tidak senangnya atas mutasi itu, Benny menyimpan semua tanda-tanda khas RPKAD dari baret, tanda komando, wing terjun hingga pisau komandonya. Mayor Inf Benny Moerdani yang mendapat Bintang Sakti langsung oleh Presiden Soekarno karena peran pentingnya dalam Operasi Naga di Irian Barat melapor ke Kostrad yang dipimpin oleh Mayjen TNI Soeharto. Inilah perkenalan langsung antara LBM dengan Soeharto yang akan berlanjut secara dinamis sampai 30 tahun sesudahnya. Sebagai perwira yang relatif junior tentu di Kostrad ia tidak mempunyai banyak peran penting, lebih-lebih antara tahun 1963-1965 Kostrad, termasuk Panglimanya tidak banyak dikenal di masyarakat. Tetapi bagi Benny itu adalah waktu pembelajaran yang berharga, karena selain ia belajar banyak hal selain operasi komando, ia juga mengenal orang-orang seperti Letkol Yoga Soegama dan terutama Letkol Ali Moertopo yang adalah orang-orang penting di Kostrad. Intelijen Perkenalannya dengan dua perwira menengah Kostrad di atas membawa Benny ke bidang penugasan baru: intelijen. Peran agak besar diberikan ketika ia ditugasi untuk membuka hubungan dengan para tokoh Malaysia dengan menyamar sebagai anggota Perwakilan Garuda Indonesia di Bangkok, Thailand. Secara perlahan ia mulai dipercaya oleh Soeharto "bosnya" yang karirnya menaik setelah peristuwa G-30-S, yaitu mula-mula menjadi Men/Pangad menggantikan Yani yang tewas, dan tahun 1968 menjadi Pejabat Presiden RI. Keterlibatan LBM dalam tataran nasional bisa dibagi atas tiga tahapan penting. Pertama, antara 1965 - 1974 yaitu sampai ia dipanggil oleh Soeharto. Kedua, antara 1974-1988 yaitu sampai ia diberhentikan secara mendadak sebagai Panglima ABRI hanya satu bulan sebelum Sidang Umum MPR. Ketiga, tahun 1988 -1993, yaitu sampai berakhirnya jabatannya sebagai Menteri Hankam. Seperti diketahui, Presiden RI sangat tidak puas dengan kinerja aparat intelijen dalam menangani peristiwa keresahan para mahasiswa yang berpuncak dengan huru-hara 15 Januari 1974 yang populer dengan istilah ''Malari''. Badan dan organisasi intel itu terbawa oleh persaingan antara Kepala Operasi Khusus (Opsus) yang adalah sebuah badan intel tidak resmi di bawah Mayjen Ali Murtopo versus Panglima Kopkamtib Jenderal TNI Soemitro sehingga tidak bisa berfungsi efektif. Soeharto menugaskan langsung Benny Moerdani untuk mengendalikan tiga aparat intelijen sekaligus, yaitu menjadi Asisten Intelijen Hankam merangkap Asisten Intelijen Kopkamtib. Dan juga mereorganisasi sebuah badan intel baru yaitu Pusat Intelijen Strategis (Pusintelstrat) sebagai pengembangan Satuan Tugas Intelijen Hankam. Sementara badan intel non-militer, yaitu Bakin (Badan Koordinasi Intelijen Negara) juga diberikan kepada pejabat baru, yaitu Mayjen Yoga Soegama yang juga dipanggil mendadak dari penugasannya di Perwakilan RI di PBB, New York. Kabakin yang lama "di-Dubes-kan" ke Belanda dan Soemitro mengundurkan diri sementara Ali Moertopo mulai dikendalikan geraknya. Tidak banyak yang tahu betapa pentingnya jabatan tersebut Seperti diketahui di Indonesia pada waktu itu, Soeharto mengandalkan keamanan dan stabilitas negara hanya pada dua badan penting: ABRI dan Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib). ABRI mempunyai tentara dan senjata dalam organisasinya juga mempunyai satuan intelijen di bawah kendali Asintel. Sementara itu, Kopkamtib juga punya organisasi terpisah (meskipun pejabatnya juga tentara) yang intelnya terpisah pula. Dengan kedua badan itu ada di satu tangan, tidak mungkin terjadi persaingan antar-lembaga. Benny dikenal baik oleh Yoga dan juga Ali sehingga tidak mungkin lagi terjadi saling curiga antarpejabat tertinggi intelijen. Organisasi Intelstrat dikembangkan untuk menghadapi berbagai ancaman yang bersifat strategis dan terutama mempunyai komunikasi langsung dengan para Atase Pertahanan RI di seluruh dunia. Dalam situasi yang mengharuskannya, ia juga bisa mempergunakan satuan Kopasandha untuk operasi khusus. Padahal pergerakan pasukan untuk operasi militer menurut ketentuan hanya boleh dilakukan oleh Panglima ABRI. Jabatan yang dipegang oleh LBM tidak boleh diotak-atik oleh siapa pun. Ia diangkat di era kepemimpinan Menhankam Jenderal TNI Maraden Panggabean, dan ketika pada tahun 1978 ada Kabinet baru dengan Menhankam/Pangab nya M. Jusuf dan Panglima Kopkamtib Laksamana TNI Soedomo, Benny tetap aman dengan tiga jabatan tersebut. Sementara itu, Yoga tetap kukuh dengan jabatan Kabakin, tetapi Ali Murtopo dipereteliti secara lihai dari organisasi Opsusnya oleh Soeharto dengan mengangkatnya menjadi Menteri Penerangan RI. LB Moerdani dengan pangkat Letnan Jenderal TNI juga bertanggung jawab atas keamanan Presiden, dan organisasi Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) ada di bawah kendalinya. Dalam daftar rombongan Presiden Soeharto yang pergi ke daerah-dan lebih-lebh ke luar negeri, nama Asintel Hankam selalu ada. Benny yang selalu ikut mengawasi perjalanan Presiden secara langsung, meskipun berusaha bersikap low profile sehingga sering pejabat di daerah tidak mengenali wajahnya. Ketika Jenderal Jusuf yang sangat populer di mata rakyat, makin dekat dengan akhir jabatannya sebagai Menhankam/Pangab, sudah jelas bahwa jabatan Panglima ABRI berikutnya harus diberikan kepada orang yang bisa dipercaya penuh oleh Soeharto. Presiden kedua RI yang tidak pernah ingin ada tokoh yang sekiranya bisa menyaingi popularitasnya, kemudian menunjuk Benny Moerdani untuk memimpin ABRI pada tahun 1983. Memang ia tidak merangkap jabatan sebagai Menteri Hankam seperti Jusuf (posisi ini diberikan kepada Jenderal Poniman), tetapi Soeharto untuk pertama kalinya mempercayai dua institusi sngat vital yang secara tradisional selalu dipisahkannya, yaitu Panglima ABRI dan Panglima Kopkamtib kepada satu orang Tahun 1973, jabatan Menhankam/Pangab diberikan kepada Panggabean tetapi Kopkamtibnya dipercayakan kepada Soemitro. Tahun 1978, Jusuf dipercaya memimpin ABRI tetapi Kopkamatib dipegang oleh Soedomo. Kepercayaan Soeharto dengan menyandingkan jabatan Panglima ABRI/Pangkopkamtib kepada Benny menunjukkan betapa besar kepercayaan Presiden kepada LBM. Kesetiaan Para pengamat asing melihat bahwa kesetiaan LB Moerdani kepada Presiden Soeharto adalah segala-galanya dan cenderung membabi-buta dan ini membuat ia mampu bertindak keras dan tegas kepada siapa pun yang bisa mengancam kedudukan Soeharto. Operasi penangkapan para mahasiswa tahun 1978, dikendalikan oleh Benny Moerdani sebagai Kepala Pusintelstrat dan demikian pula penangkapan berbagai tokoh garis keras setelah itu. Sejumlah perwira tinggi yang bergabung dalam ''Petisi 50'' pun ia cekal dengan keras, tidak peduli jabatan atau jasa yang dipunyai orang itu sebelumnya. Namun, para pengamat sering salah taksir mengenai hubungan pribadinya dengan sejumlah tokoh tentara yang lain. Ia bisa bertindak keras terhadap perwira tinggi senior semacam Letjen HR Dharsono dengan menangkapnya dan menjebloskannya ke penjara. Secara mendasar ia juga tidak senang dengan tokoh yang dekat dengan Soeharto, seperti Soedharmono atau kepada sejumlah perwira yang mencoba berpikir sebagai demokrat. Tapi secara intuitif LB Moerdani bisa hormat kepada sejumlah jenderal lain yang juga tidak senang dengan Soeharto secara pribadi seperti Jenderal Soemitro. Pernah Benny secara khusus mengirimkan perwira kepercayaannya untuk memberi penjelasan kepada Soemitro setelah ia mendengar bahwa ia mengkritik salah satu kebijakannya. Contoh lain adalah hubungannya dengan Jenderal M. Jusuf. Kivlan Zen dalam bukunya Konflik dan Integrasi TNI-AD (2004) menulis sebuah bab tentang adanya konflik antara LBM dan Jusuf yang memuncak dengan ketidakhadiran Benny dalam Rapim ABRI di Ambon. Padahal faktanya adalah Benny baru saja memberikan briefing kepada peserta Rapim ketika terjadi peristiwa pembajakan pesawat DC-9 Woyla milik Garuda Indonesia tahun 1981. Jusuf memerintahkan Benny untuk memimpin operasi penumpasan, dan malah Benny disuruh untuk mempergunakan pesawat Hercules Komandonya supaya bisa kembali pulang ke Jakarta secepatnya. Ketika keduanya sudah pensiun, mereka masih saling berhubungan. Benny pernah terbang secara khusus ke Australia sewaktu mantan Menhankam itu harus mengalami operasi jantung. Dan ketika LBM diserang sakit, Jusuf yang menanyakan keadaan kesehatannya secara terus-menerus. Yang unik dan menarik dikaji adalah hubungan LBM dengan Letjen (Purn) Prabowo Soebianto ketika yang belakangan masih berpangkat Mayor. Keduanya berasal dari generasi yang berbeda jauh, dan normalnya tidak mungkin seorang perwira menengah mampu melakukan gerakan atau menyatakan ketidaksukaan terhadap seorang yang begitu powerful seperti Benny. Buku Kivlan Zen menyatakan, hubungan keduanya memburuk sejak tahun 1985, Tetapi faktanya, Prabowo sudah menunjukkan sikap curiga terhadap Benny Moerdani sejak sebelumnya, yaitu tahun 1983. Pernah sewaktu Prabowo meminta bertemu ke kediaman M. Jusuf di Jl Teuku Umar, tetapi sebelum berbcara, ia memeriksa beberapa tempat di rumah Jusuf takut kalau Asintel Hankam itu memasang peralatan penyadap atau kamera mata-mata di rumah sang bos. Prabowo jugalah yang mengundang Jusuf untuk bertemu dengan sejumlah perwira menengah Korps Baret Merah di Cijantung setelah mendengar informasi bahwa Jusuf akan diganti oleh Moerdani. Jusuf yang masih Menhankam menyetir sendiri mobilnya diikuti Prabowo dari belakang untuk menenangkan mereka. Hubungan antara LBM dan Soeharto yang oleh seorang pengamat disebut mirip "hubungan anak dengan bapak" memang mulai menyurut sejak tahun 1985. Ada tiga faktor yang menyebabkan itu. Pertama, kegelisahan LBM bahwa Soeharto mulai kehilangan pengendalian diri dan akan lebih memprcayai keluarganya daripada orang lain. Perubahan "kesetiaan" LBM itu mulai dirasakan oleh Soeharto. Presiden yang ahli strategi itu mengambil langkah cepat dan secara mendadak mengganti kedudukan LBM sebagai Panglima ABRI sebelum Sidang Umum MPR tahun 1988. Padahal biasanya jabatan itu diganti berbareng dengan pembentukan Kabinet baru yang dilakukan sesudah MPR mengangkat Presiden. Kedua, suksesi yang direncanakan oleh Soeharto dianggap tidak cocok olehnya, lebih-lebih dengan akan diajukannya Soedharmono sebagai Wapres periode 1988-1993. Peristiwa interupsi Brigjen Ibrahim Saleh dalam Sidang Umum MPR sering dianggap sebagai bagian dari ketidaksenangan LBM. Ketiga, dan yang ini barangkali yang mampu menjelaskan mengapa perubahan sikap LBM "mudah" dibaca oleh Soeharto, adalah munculnya faktor Prabowo Soebianto. Ia adalah "anggota baru" keluarga Soeharto yang sejak awal tidak cocok dengan LBM dan karenanya mampu menyampaikan informasi jenis lain langsung kepada Presiden Soeharto. Paling tidak ini dikemukakan oleh dua orang dekat dengan Prabowo, yaitu Kivlan Zen dan Fadli Zon yang masing-maisng menulis buku mengenai itu. Soeharto memang sebelumnya mempunyai keluarga yang jadi anggota tentara, bahkan juga Baret Merah, yaitu Wismoyo Arismunandar; tetapi ia sejak lama mencoba menjaga jarak dengan Soeharto sehingga tidak pernah masuk ke lingkaran paling dalam. Ketiga alasan itu agaknya akan tetap menjadi bagian dari misteri sejarah yang dibawa oleh almarhum LB Moerdani. Suatu misteri dari banyak misteri lain yang mungkin tidak akan pernah terungkap. Penulis adalah pengamat militer pada RIDEP Institute, kini bekerja di ''RCTI'' ---------------------------------------------------------------------- http://www.mediaindo.co.id/ Senin, 30 Agustus 2004 BERITA UTAMA Bendera Setengah Tiang Tandai Kepergian Moerdani JAKARTA (Media): Jenazah Jenderal Leonardus Benjamin Moerdani dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Timur, kemarin. Sebagai wujud dukacita dan penghormatan atas jasa-jasa almarhum, Media/M Irfan PEMAKAMAN MOERDANI: Sejumlah anggota Kopassus mengusung jenazah mantan Menhankam-Pangab Jenderal (Purn) LB Moerdani, untuk dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, kemarin. Pendiri Badan Intelijen Strategis (Bais) ABRI ini meninggal dalam usia 72 tahun karena telah lama menderita stroke. Markas Besar TNI menginstruksikan seluruh markas di lingkungan TNI mengibarkan bendera setengah tiang selama tujuh hari berturut-turut. Moerdani menghembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto sekitar pukul 02.00 WIB, dini hari kemarin. Beliau dirawat di rumah sakit itu sejak 7 Juli 2004 karena menderita stroke dan infeksi paru-paru. Upacara pemakaman secara militer berlangsung sekitar pukul 13.50 WIB dipimpin Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto. Saat upacara berlangsung, tiga kepala staf TNI tampak mendampingi keluarga dan sanak saudara, yaitu KSAD Jenderal Ryamizard Ryacudu, KSAL Laksamana Bernard Kent Sondakh, dan KSAU Marsekal Chappy Hakim. Tembakan salvo terdengar saat peti jenazah diturunkan ke liang lahat yang berada di Blok W, di bagian selatan kompleks pemakaman tersebut. Disusul dengan doa dan upacara kerohanian secara Katolik yang dipimpin oleh Romo Soewito Pandito. Dalam amanatnya, Panglima TNI menegaskan, upacara itu dilakukan untuk menghormati dan menghargai jasa-jasa almarhum. ''Indonesia kembali kehilangan salah satu putra bangsa terbaik karena dia telah menjadi suri teladan bagi semua, meski selama hidupnya sebagai manusia almarhum tidak luput dari kesalahan,'' ujar Endriartono. Almarhum juga mendapat penghormatan terakhir di Mabes TNI-AD Jl Veteran, Jakarta Pusat, dalam sebuah upacara yang dipimpin KSAD Jenderal Ryamizard Ryacudu. Sebelumnya, jenazah almarhum disemayamkan di rumah duka Jl Terusan Hang Lekir IV No 4/43, Jaksel. Hadir melayat di Mabes TNI-AD, Presiden Megawati Soekarnoputri bersama suami, Taufiq Kiemas. Terlihat pula Abdurrahman Wahid (Gus Dur) beserta istrinya, Sinta Nuriyah, dan mantan capres dari Partai Golkar Jenderal (Purn) Wiranto yang juga mantan Menhamkam/Pangab. Sedangkan di rumah duka, tampak melayat mantan Presiden Soeharto yang didampingi putrinya, Siti Hardijanti Rukmana, dan capres Susilo Bambang Yudhoyono. Moerdani termasuk tokoh yang paling berpengaruh dalam perjalanan bangsa ini. Selain karena jasanya terhadap kemajuan TNI, beliau juga dikenal sebagai salah satu tokoh yang kontroversial karena disebut-sebut berada di balik rangkaian kerusuhan di beberapa daerah. Bahkan, dianggap berada di balik peristiwa Tanjung Priok. Moerdani juga sering disebut-sebut berada di belakang mutasi besar-besaran di tubuh TNI (ketika itu sebutannya ABRI). Istilah perwira "hijau" atau perwira Islam juga berdengung di era kepemimpinannya. Semasa beliau memegang tongkat komando, para perwira hijau disebut-sebut sering digeser olehnya. Namun, jasanya yang besar terhadap bangsa ini menenggelamkan begitu gunjingan-gunjingan seperti itu. Ketokohannya juga membuat orang sulit melupakan figur ini begitu saja. Bahkan Gus Dur yang menulis pengantar pada biografi "Benny Moerdani: Profil Prajurit Negarawan, 1993", menyebut jenderal ini sebagai guru politiknya. Dia juga dikenal sebagai negarawan yang besar hingga dijuluki kalangan diplomat asing sebagai the only statesman in Indonesia. (Nur/Tia/X-8)
Belum Ada Tanggapan
Belum ada komentar.
Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal
Tinggalkan komentar
