Moerdani VS Sudharmono

Perseteruan Orang Dekat Soeharto

Intro:

*Leonardus Benjamin Moerdani (also publicly known as LB Moerdani or Benny Moerdani) (2 October 193229 August 2004) was the ABRI Commander from 1983-1988 and also served as Indonesia‘s Minister of Defense and Security. He is famous due to his strong stance in many decisive situations in Indonesian political and social life. He was also significant as a leader who was Catholic in predominantly Muslim community.

*Hubungan Masa Lalu: Hubungan persahabatan yang dijalin selama belasan
tahun menjadi renggang ketika salah seorang dari mereka dicalonkan
sebagai wakil presiden. Inilah kisah masa lalu mereka berdua.

*Moerdani, jendral militer dengan semangat pan©asila. Salah satu putra terbaik bangsa, dan sayangnya juga termasuk bapak dunia mafia diindonesia.

Adalah “anak emas soeharto”, kehebatannya dalam strategi&taktis militer membawanya kepun©ak karirnya, kesetiaan buta terhadap soeharto dan barulah dipenghujung karir dan hidupnya baru membuka matanya akan kebusukan2 soeharto dan teguh kepada pendiriannya, anti-suharto.

Sudah lama sebenarnya Leonardus Benjamin `Benny’ Moerdani dan
Sudharmono jadi kawan akrab. Pertama kali Benny kenal dengan
Sudharmono sekitar tahun 1951 di Bandung. Saat itu ia menjadi siswa
Pusat Pendidikan Perwira Angkatan Darat. Sedangkan Sudharmono waktu
itu adalah perwira pimpinan (battalion’s adjutant). Hubungan itu kian
dekat saat Benny pulang dari Seoul, Korea Selatan, tahun 1974.
“Kedekatan itu berlangsung lantaran tugas kami banyak berhubungan,”
kata Benny suatu ketika.

Mungkin betul apa yang dikatakan Benny. Selepas menjabat konsul
jenderal RI di Korea, pria kelahiran Cepu, Jawa Tengah, 2 Oktober
1932, itu langsung dipercaya sebagai asintel Hankam/Kopkamtib.
Sementara saat itu Sudharmono menjabat mensesneg. “Karena jabatan
serta tugas itulah, maka hubungan saya dengan Pak Dhar, baik dalam
kaitan kerja maupun secara pribadi, menjadi semakin erat,” kata Benny
Moerdani seperti ditulis dalam buku Kesan dan Kenangan dari Teman: 70
Tahun H. Sudharmono, S.H. Puncak keeratan hubungan mereka terjadi saat
Benny menjadi panglima ABRI dan Sudharmono jadi mensesneg selain ketua
umum Golkar.

Namun, namanya juga manusia, hubungan pertemanan yang dicoba dijalin
secara mulus itu akhirnya bisa retak juga. Persoalannya pun sebetulnya
terkesan tidak rasional. Hanya gara-gara kepentingan politik, Benny
dengan Sudharmono harus beradu kepentingan.

Entah apa yang menjadi dasar, di penghujung jabatannya sebagai ketua
umum Golkar, beberapa orang pengurus DPP berkehendak mengegolkan
Sudharmono jadi orang nomor dua di Republik ini. Ketika itu Sarwono
dan Akbar Tandjunglah yang begitu bersemangat mengupayakan Sudharmono
jadi calon wakil presiden periode 1988-1993. Tekad mereka makin kuat
setelah mendapat sinyal dari Presiden Soeharto.

Sebenarnya, pria kelahiran Gresik, 12 Maret 1927, itu kurang berkenan
dengan pencalonan tersebut. Bukan apa-apa, Sudharmono merasa dirinya
tidak layak untuk menjabat posisi itu. Dalam otobiografi Sudharmono,
S.H.: Pengalaman dalam Masa Pengabdian, disebutkan Sudharmono bersikap
keras kepada Sarwono dan Akbar Tandjung. Dua orang inilah yang bertemu
dengan Sudharmono di Sekretariat Negara pada 25 Februari 1988 untuk
membicarakan masalah pencalonan sebagai wapres. “Pada saat itu reaksi
saya ialah sebaiknya Fraksi Karya Pembangunan mengadakan konsultasi
dengan ketua Dewan Pembina. Kalau mungkin bersama-sama dengan Fraksi
Utusan Daerah dan Fraksi ABRI,” tulis Sudharmono.

Rupanya, pencalonan itu secara tidak langsung diketahui oleh Pak
Harto. Cuma, waktu itu Soeharto tidak secara tegas menunjuk hidung.
Waktu itu Soeharto cuma mengisyaratkan syarat-syarat untuk calon wakil
presiden. Pertama, dia haruslah seorang yang teguh pendiriannya atas
Pancasila dan UUD 1945. Kedua, menunjukkan kapabilitasnya, memiliki
prestasi dan integritas yang tinggi. Ketiga, dapat diterima oleh
masyarakat. Keempat, mendapat dukungan sebagian besar anggota fraksi.
Menurut Sarwono dan Akbar waktu itu, keempat syarat tersebut ada pada
diri Sudharmono. Kloplah sudah.

Tiga hari kemudian digelarlah rapat tiga fraksi, yaitu FKP, FUD dan
FABRI, di Mabes ABRI. Benny Moerdani selaku Pangkopkamtib bertindak
sebagai tuan rumah. Saat itu hadir juga pangab baru, Try Sutrisno.
Selain itu, pimpinan tiap-tiap fraksi tentu saja hadir. Demikian juga
Ketua Umum Golkar dan Pimpinan Korpri Soepardjo Roestam. Trifraksi
ketika itu sudah berkonsultasi kepada Soeharto ihwal calon yang akan
dipilih sebagai pendampingnya.

Dalam rapat tersebut terjadi situasi yang agak “aneh”. Saat itu,
Cosmas Batubara, salah seorang anggota FKP, menanyakan kepada pimpinan
rapat, siapa calon tiga jalur untuk wakil presiden mendatang. Ini
dijawab Benny. Menurut Benny, FABRI sampai waktu itu belum mengambil
keputusan. Alasannya, dia baru saja kembali dari luar negeri dan belum
sempat berkonsultasi dengan Pak Harto.

Jawaban ini terang saja menimbulkan tanda tanya. Padahal ketiga fraksi
ketika berkonsultasi dengan Pak Harto telah menyatakan kesamaan
pandangannya untuk mencalonkan Pak Dhar. Timbul pertanyaan, ada apa
dengan Benny?

Dalam hubungan dengan pencalonan Sudharmono oleh ABRI, Sudharmono
mendengar kabar kurang sedap. “Keputusan ABRI untuk mencalonkan saya
itu diambil setelah diadakan rapat maraton di kantor Pak Benny di
Tebet (kantor intel),” tulis Sudharmono dalam buku Pengalaman dalam
Masa Pengabdian. Dalam rapat itu, lanjutnya, Benny awalnya keberatan
jika ABRI mencalonkan Sudharmono sebagai wakil presiden. Alasan yang
dia kemukakan sendiri tidak jelas. Baru setelah terjadi perdebatan
yang hangat antara peserta rapat–terdiri atas jenderal-jenderal
pimpinan ABRI, termasuk Benny, Try Sutrisno, Sugiharto (kepala staf
sosial politik ABRI), Harsudiono Hartas (asisten kassospol)–akhirnya
diambil keputusan untuk mendukung Sudharmono. Rupanya, yang menentukan
keputusan itu tidak lain karena Soeharto memang menjagokan Sudharmono.
Karena itu, dengan berat hati Benny terpaksa harus loyal atas
“keputusan” Soeharto tersebut.

Benny sendiri tampaknya kurang respek terhadap pencalonan Sudharmono.
Soalnya bukan apa-apa. Awalnya, nama Benny memang disebut-sebut
sebagai salah seorang kandidat wakil presiden. Tetapi soal ini ditolak
oleh Benny. “Bagus kalau demikian,…kalau saya masih menjadi ketua
Partai ABRI. Tetapi sejak dua jam yang lalu, ketua partai sudah bukan
di tangan saya lagi, melainkan Try…” tulis Benny dalam biografi
Benny Moerdani Profil Prajurit Negarawan.

Rupanya, Benny mengusulkan nama Try Sutrisno sebagai wapres. Try
sendiri belum genap dua jam sebelumnya menerima tanggung jawab sebagai
panglima ABRI. Tampaknya dia malah belum sempat menyadari sepenuhnya
terhadap isyarat yang diberikan Benny itu. Benny sudah berupaya agar
nama Try digelindingkan sebagai kandidat dari ABRI.

Namun apa lacur? Benny tetap saja Benny. Kehendak untuk berkuasa
tampaknya masih ada. Gagal dalam proses pencalonan di tingkat fraksi,
dia mencoba bermain dalam proses pemilihan di tingkat Sidang Umum MPR.
Saat pemilihan wapres berlangsung, muncul kejanggalan yang tidak
terduga. Semula, Sudharmono sudah bulat mendapatkan dukungan
trifraksi, tapi secara tak diduga Ketua PPP Jaelani Naro bagai jagoan
mencalonkan diri sebagai wakil presiden. Kemudian, muncullah Ibrahim
Saleh dari FABRI yang tiba-tiba melakukan interupsi. Dia mengucapkan
pidato yang tidak jelas. Intinya, tidak setuju calon wakil presiden
yang sudah diproses. Naro baru mundur pada detik-detik akhir
pemilihan, setelah dilobi oleh Awaloedin Djamin. Namun belakangan,
menurut pengakuan bekas seorang pimpinan FPP, pencalonan Naro memang
mendapat dukungan dari Benny. Begitu pula kasus Ibrahim Saleh adalah
bagian dari skenario untuk memprotes pencalonan Sudharmono.

Benny berkilah. “Apa pun yang diucapkan anggota FABRI yang maju ke
depan tadi itu tidak mencerminkan pendapat resmi fraksi… jelas
dilakukan oleh perorangan,” katanya. Bantahan ini untuk menepis
anggapan bahwa peristiwa itu merupakan skenario yang diatur Fraksi
ABRI karena mereka sejak awal tidak setuju Sudharmono sebagai wapres.

Konflik Politik. Benarkah itu awal konflik Benny-Sudharmono? Bukan.
Perseteruan Benny dengan Sudharmono sudah lama terjadi. Saat
Sudharmono memangku jabatan ketua umum Golkar (1983-1988), memang
santer isu bahwa ABRI tidak setuju dengan program kaderisasi,
kemandirian Golkar, dan juga tidak menyetujui Golkar akan memperoleh
suara yang terlalu besar dalam pemilu. “Tetapi mengenai hal itu saya
tidak pernah mendengar dari Benny, baik dalam pertemuan maupun di luar
pertemuan,” kata Sudharmono dalam otobiografinya, Pengalaman dalam
Masa Pengabdian.

Hal senada juga dikemukakan Harsudiono Hartas. Menurut dia,
perseteruan Benny dengan Sudharmono itu berawal dari penggunaan
tentara oleh Golkar. “Perseteruannya cuma begitu. Dulu saya pernah
mbalelo kan? Karena apa, jangan mendikte dong, karena ini kan
demokrasi. Tapi itu kan perseteruan sementara,” katanya. Menurut
Hartas, Benny bersikap seperti itu agar Golkar jangan menguasai ABRI.
“ABRI itu kan milik rakyat. Mengapa ABRI berjuang untuk mendapat kursi
di DPR. Itu hakikatnya untuk mempertahankan semangat proklamasi,”
katanya.

Pernyataan ini dibantah oleh Sarwono. Justru sebaliknya, kata Sarwono,
saat itu ABRI berusaha mengobok-obok Golkar. Caranya? “Hampir semua
ketua DPD I dan II itu orang-orang militer. Dewan Pembina dan militer
tidak mau Golkar itu berkembang. Kalau berkembang bisa membahayakan
posisi presiden,” kata Sarwono Kusumaatmadja.

Sudharmono sendiri mengakui, antara dia dan Benny pernah terjadi
sedikit beda pendapat mengenai soal operasional. Itu terjadi ketika
Golkar menyetujui diadakannya kiprah pemuda dengan menyelenggarakan
kirab AMPI dari Surabaya ke Jakarta, menjelang masa kampanye Pemilu
1987. Meskipun semua persiapan–termasuk perizinan–sudah diperoleh,
dalam pelaksanaannya ada beberapa pejabat militer daerah yang tidak
menyetujui kegiatan AMPI dengan berbagai alasan. “Namun, setelah saya
mengadakan pembicaraan langsung dengan Pak Benny dan menjelaskan
persoalannya, akhirnya dapat dicapai saling pengertian, dan kirab AMPI
dapat dilaksanakan sesuai rencana,” katanya.

Sudharmono sebetulnya tahu jika dirinya dihadapkan secara kontradiktif
dengan Benny. Perbedaan itu, seperti dituduhkan beberapa pihak,
malahan menjurus ke rivalitas. “Saya sendiri tidak pernah percaya atas
isu-isu demikian,” kata Sudharmono. Alasannya, karena selama dia
bergaul dengan Benny, dia tidak pernah melihat yang seperti itu.
“Kalau ada orang yang mencoba memanas-manasi saya mengenai Pak Benny,
saya selalu mengatakan hal itu sebagai usaha adu domba.”

Persoalannya, siapakah yang mampu mengadu mereka? Banyak yang percaya:
Soeharto.

4 Komentar

  1. Pada waktu itu jaman LB Moerdani masih hidup banyak pelanggaran HAM yang sangat tidak manusiawi dan terkesan membabi buta kepada rakyat khususnya umat Islam tetapi anehnya pelaku dari kejadian itu adalah dia sendiri (LB) masalah HAM seperti ini menjadi kasus yang terberat bagi proses demokrasi di Indonesia sungguh sangat di sayangkan negara yang kapitalis pelaku HAm berat sampai kini belum tertangkap sama sekali sungguh ironis

  2. Menarik, misterius.. “his strong stance in many decisive situations in Indonesian political and social life”

  3. Sya memang amati waktu itu Alm Sudharmono dan Alm. Benny Murdhani bahwa mereka tidak pernah terjadi kecocokan dalam pembinaan politik pemerintah,. Sya yakin Alm. Benny Murdhani sadar dan tahu bahwa Alm. Sudharmono itu sangat intim dengan Alm. Soeharto, dan Alm. Benny Murdhani sendiri pasti sadar bahwa almarhum (red. Benny Murdhani) sangat sedikit yang memberi dukungan kepadanya. Oleh karena itu, konflik internal antara Alm. Soedharmono dengan Alm. Benny Murdhani sudah pasti akan berakhir dengan kemenangan bagi Alm. Soedharmono. Namun ada hikmat dari konflik internal tersebut bahwa Alm. Benny Murdhani sebenarnya hanya ingin mengingatkan Alm. Soeharto bahwa akhir masa kepemimpinan Alm. Soeharto sudah diambang pintu. Artinya, jika Alm. Soeharto ingin berniat terus menjadi orang nomor satu di persada Nusantara ini, maka alm. Benny Murdhani yakin bahwa Alm. Soeharto nanti akan lengser dengan tidak nyaman alias lengser dengan tidak hormat. Ada informasi yang beredar bahwa menjelang detik-detik Alm. Soeharto lengser keprabhon, alm. Benny Murdhani adalah merupakan sosok sumber informasi penting bagi kaum reformasi untuk membangun mental baja dalam berjuang maju terus pantang mundur.

  4. Om saya di cirebon nuhuwiyah, mohn dijemput dan dibagi rumah dan unag saku dn ke htel dan cafe gay dan dibeikan cowok ganteng di cicil, kedubes aemrika, polsi amerikasay


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.